Melihat Kemunkaran, Diam Saja ?

Untuk menanggapi persoalan yang dilontarkan Saudara Rini Susilowati di Forum belajar Islam kita di FaceBook, berikut saya kutipkan "penampakan" dalil berkaitan sebagai berikut :



Bacaannya berbunyi " sami'tu rosulallohi sholallohu 'alaihi wa salam, man ro'a munkaron falyunkir-hu bi yadihi wa man lam yastati' fa bilisani-hi wa man lam yastati' fa biqolbi-hi wa dzalika adh'aful iman"

Supaya lebih mudah dalam memahami arti kata demi kata dalil di atas berikut sudah saya pisahkan arti masing2 penggalan kata Arabiknya.




Hadits di atas saya kutip dari himpunan dalil Kitab Mukhtarul Adilah , yang berisi kumpulan dalil dari al-Quran dan Hadits.

Keterangan dari uraian arti hadits itu :

Nabi bersabda " Barang siapa melihat kemungkaran maka hendaklah mengingkari (kemungkaran itu) dengan tangannya dan barang siapa tidak mampu (dengan tangannya) maka dengan lisannya, dan barang siapa tidak mampu (dengan lisan) maka dengan hatinya, demikian (dengan hati) adalah paling lemahnya iman".

Kemungkaran adalah suatu perkara yang diingkari menurut kacamata norma agama. Sudah sepatutnya seorang yang dalam hatinya tumbuh benih keimanan hasil semaian Alloh SWT, tidak nyaman manakala terjadi kemungkaran di sekitarnya.

Seperti di tuturkan Saudara Rini yang selalu melihat kebohongan di depan mata maka akan timbul reaksi atas kelakuan itu. Kecuali orang yang memang cuek akan lingkungan maka hidupnya seperti tidak peduli akan fenomena disekitarnya.

Dari kasus yang dipaparkan (tidak perlu menyebut nama individu biar tidak terseret غِبَة /ghibah/ngrasani) Anda dapat melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan Anda.
Syukur kalau mampu dengan tangannya sendiri , langsung hubungi suaminya baik2 dan tegur secara halus dan itikad baik. lakukan demi keharmonisan hubungan suami istri.
Terasa tidak mampu seperti itu maka cobalah dengan lisan. Hubungi dan sampaikan pesan melewati seorang yang dipercaya. Intinya bagaimana suami itu mendapat nasihat atas kelakuan selama ini.

Masih tidak mampu untuk mengutarakan perasaan Anda, maka minimal dengan hati. Artinya dalam hati Anda betul2 tidak setuju dan mengingkari kelakuan suami yang terus melakukan kedustaan kepada istri.

Tapi ingat ! Baginda Rosululloh memberikan warning " itulah paling lemahnya iman" . Karena hanya dengan hati tanpa " do something" boleh jadi hati akan makin lemah terus-menerus membiarkan kemungkaran, seakan membiarkan budaya baru. Tidak menutup kemungkinan akan semakin merajalela.

Jadi lakukanlah sebatas mana yang Saudara mampu, niyatkan untuk mendapat ridho Alloh, jangan lupa untuk selalu mohon pertolongan sama Alloh SWT agar kita selalu dibimbing dalam petunjukNYA.

Demikian jawaban yang dapat saya haturkan, ada kurang lebihnya mohon maaf.

Apakah paparan dalil di atas dapat dipahami ? atau ada kesulitan, jangan sungkan2 masukkan pertanyaan ke tampilan komentar di blog.

Semoga manfaat dan barokah