3 Alasan Mengajarkan Mengaji Kepada Anak ( Bag.1: Anak, Musuh Bagi Orang Tua )

Ilustrasi : Orang tua yang menangis berdoa kpd  Alloh Swt

Anak adalah amanah dari Alloh Swt kepada kedua orang tua.

Jika dapat menjaga amanah dengan baik maka orang tua akan mendapatkan pahala dari Alloh Swt . Hasil pendidikan akhlak dan moralitas dari orang tua, membuahkan hasil. Anaknya dapat mengangkat derajat orang tuanya di dunia juga di akhirat, insyaAlloh. Orang tua dapat merasakan kebahagiaan dengan mempunyai anak yang solih dan atau solihah.

Sebaliknya orang tua merasakan gelisah, kecewa, bahkan stres , depresi oleh karena tingkah polah perilaku ananda.

Akhinya merasa berdosa kepada Alloh Swt karena lalai, abai dalam perhatiannya kepada sang anak.

Mengingat latarbelakang pentingnya mendidik anak, lalu apa saja alasan orang tua mengajarkan mengaji kepada anaknya ?

# Fitnah Bagi Orang Tua.

" Dan ketahuilah oleh kalian, bahwa sesungguhnya hartamu dan anakmu sebagai fitnah (ujian), dan sesungguhnya Alloh, di sisiNYA ada pahala yang agung " QS.Al-Anfal (8):28.

Fitnah artinya cobaan. Dalam kehidupannya seorang akan mendapatkan ujian dan cobaan dari harta juga dari anaknya. Diuji dengan harta, misal diberikan usahanya dapat berhasil, sukses akhirnya penuh dengan kesibukan mengurus bisnisnya hingga lalai akan kesungguhan beribadah. Karena lebih memberatkan urusan pendapatan hingga mengganggap mudah bahkan meremehkan hukum-hukum dalam perdagangan. 

Diuji dari anaknya.

Lebih ekstrim lagi anak bisa menjadi musuh bagi orang tuanya lho.
Anak bahkan ada yang menyeret orang tuanya ke ranah hukum di dunia. Berani kepada orang tua. 
Na'udzubillahi min dzalik

Ayatnya memang ada 
 

" Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu adalah musuh bagimu, maka jagalah/berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang ". 

'Aduwwun boleh jadi dalam arti yang sebenarnya.
Anak durhaka bahkan , bahkan kematian orang tuanya di tangan anaknya sendiri.

Ilustrasi ektrimnya ibarat memelihara anak harimau. Di saat awal menyenangkan , lucu dan menggemaskan. Setelah menjadi besar, karena lalai harimau besar menerkam dan membunuh yang merawatnya dan menyayanginya sejak kecil.

Dibentuk Sejak Kecil

Seorang seniman pengrajin (lebih tepatnya mungkin) "seniman" bonsai dapat mnciptakan bentuk yang unik sesuai kehendaknya. Hasil karyanya tidak dibentuk secara instan, namun dari saat tumbuhan masih kecil, dahannya masih mudah dibengkokkan di arahkan sesuai planing dan visinya.

Manusia dewasa yang tumbuh menjadi insan beriman, memiliki ilmu pengetahuan agama yang memadahi, dengan ilmunya itu menjadikannya bertaqwa kepada Alloh Swt memiliki watak akhlaqul karimah , berbudi pekerti luhur, tidak dibentuk secara instan, cepat.
Dengan pikiran kedewasaannya mudah dinasihati. Memiliki pengertian untuk inisiatif membantu orang tua, ta'dzim /menghormat kepada orangtua. Hal tersebut dapat mewujudkan ridho Alloh. Ridho Alloh dalam ridhonya orang tua.

Sejak masih kecil, bahkan sejak lahir dituntun dalam sunah (tuntunan dan ajaran) Rosulillahi Saw, dikumandangkan adzan. Disayangi diberikan bimbingan dan diajak praktek peribadatan dan berdoa. 
Saat usia PAUD, TK- SD adalah saat pembentukan karakter dan kepribadian. 
Jika orang tua tendiri tidak sempat dengan pemberian materi keilmuan yang dibutuhkan, maka pembinaannya dapat diikutkan pengajian di madrasah terdekat atau Taman Pendidikan Alqur'an (TPQ).


Baca Juga Artikel :





 
Selengkapnya...

Ingin dicintai dan diampuni Alloh SWT ? Ini Salah Satunya


Siapa sih yang tidak suka apabila disayangi oleh orang yang kita cintai?

Seorang yang sedang dimabuk cinta akan senantiasa berbunga-bunga hatinya manakala mendapatkan tanda kasih sayang dari orang yang dicintainya. Kiriman sepucuk surat darinya tidak cukup hanya dibaca sekali, mungkin dibaca berulangkali bahkan dibawa kemana-mana. Perasaan nyaman dan tenang selalu bersemayam di dada ketika berada di sampingnya.

Qul in kuntum tuhib-bunaloh fat-tabi’uni yuhbib’kumullohu wa yaghfir lakum dhunubajum, wallohu ghofurur-rohim

Kitab Suci Al-Quran Surah Ali Imron (3);31


“Katakanlah (hai Muhammad) “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Demikian juga manusia sebagai makhluk dan hamba dapatkah “ menjadi kekasih Alloh SWT ?”

Jawabannya jelas, sebagaimana tafsir kita kali ini, bahwa siapa yang ingin menjadi “kekasih Alloh SWT “ diberikan resep / tips yaitu agar mengikuti Rosulillahi SAW.

Alloh akan senantiasa dekat dengan hamba yang menjadi kekasihnya dan senantiasa menolong, membimbing ke arah keselamatan dan kebahagiaan.

Lalu bagaimana caranya mengikuti Nabi Muhammad SAW sebagai utusan-NYA dalam rangka pendekatan kepada Alloh SWT. Kedekatan itu yang akhiranya membuahkan cinta Alloh Swt.

Yang dimaksud mengikuti Nabi Muhammad SAW tentunya memahami apa dan bagaimana tingkah laku, cita-citanya, pesan dan nasihatnya.

Lalu bagaimana cara memahami bahasanya. Realitanya kita ini orang Indonesia sedang Rosulullohi SAW sendiri adalah Bangsa Arab dari suku Quraisy yang tentu berbeda bahasanya dengan kita.

Nah di sinilah pentingnya kita giat dan semangat belajar mencari ilmu, mengkaji Al-Quran dan As-Sunah dengan cara mempelajari arti kata demi kata(artamita) darikitab pedoman agama tersebut. Dari arti kata demi kata maka akan tersusun makna secara keseluruhan ayat maupun hadits. Dengan pembelajaran yang systematis serta berkelanjutan insyaAlloh akan terbentuk pengertian yang kian mendalam.

Setelah kita paham isinya , tentukah kita yakini, amalkan se-pol kemampuannya.

Dengan mengikuti Nabi Muhammad SAW konkritnya adalah melaksanakan perintahnya dan menjauhi apa yang menjadi larangannya semoga digolongkan sebagai hamba yang taat kepada Alloh SWT. Dengan demikian Alloh akan mencintai hamba, mengampuni dosanya dan memasukkan ke dalam surga.




Selengkapnya...