Pembahasan LPM Kajian No.16 : Ruhnya Islam Dan Tiyang Keimanan








Klik immage di atas untuk memperjelas

Al'ilmu khayatul iiman wa 'imadul iiman

Ilmu (itu) hidupnya Islam dan tiyangnya keimanan.

Hidupnya Islam dengan ilmu, memang demikian adanya. Islam adalah dinulloh -agamanya Alloh SWT yang mana konsep pemikiran , petunjuk, suri tauladan, tamtsil/gambaran2, perintah, larangan, semuanya sudah tertuang secara gamblang di dalam Kitab Suci al-Quran 30 juz. Konsep pedoman agama Islam tersebut sudah tersusun secara sempurna di louh al-mahfudz "papan yang terjaga" . Sedangkan yang kita jumpai di dunia ini adalah mushaf lembaran yang dicetak oleh manusia untuk memudahkan kita mempelajarinya. Demikian juga kitab hadits yang mana isinya adalah uraian teladan Rosulullohi SAW.

Selagi masih berwujud lembaran kertas maka kitab al-Quran dan kitab hadits  tentu saja semacam benda mati. Terpajang rapih pada rak di toko kita, toko buku berdampingan dengan buku-buku lain yang juga dijual di sana.

Dengan memahami isi dan kandungan al-Quran dan hadits dengan mengikuti kaidah cara mempraktekkannya maka dengan sendirinya akan terbentuk suatu amalan-amalan. Petunjuk yang dapat memotivasi dan menggerakkan anggota badan manusia.

Maka dengan kita mengkaji quran dan Hadits merupakan cara awal untuk menghidupkan Islam.

Komunitas berkumpulnya umat seperti di masjid, surau, majelis ta'lim, pondok pesantren dapat "hidup" ma'mur-ramai karena ilmu.

Contoh riel: suatu masjid yang senantiasa dipakai kajian ilmu secara rutin maka masjidnya menjadi hidup, masjid yang difungsikan sebatas solat berjamaah seakan menjadi mati.

Ilmu juga sebagai tiyangnya keimanan. Iman itu pekerjaan di dalam hati yang didasari keyakinan. Untuk meyakini sesuatu tentu saja butuh materi informasi tentu memerlukan ilmu pengetahuan. Keyakinan agama seseorang akan menjadi kokoh jika dia dapat mengenyam materi yang bersumber dari Quran dan Hadits menjadi ilmu pengetahuan yang masuk ke dalam hati sanubari.

Saudara-saudaraku , mari hidupkan Islam di dalam hati kita dengan harapan kemudian dapat tergerak menular kepada anggota keluarga kita, famili, tetangga, masyarakat umum dll.