Tidak Punya Pensiun

Gambar hanya ilustrasi sesuai judul. Tidak bermaksud memberi penilaian terhadap indifidu tertentu.

Pada ilustrasi tampak orang tua yang lelah memikul barang dagangannya. Dari raut wajah usianya boleh jadi dia atas kepala 7 bahkan 8.
Tertatih-tatih menawarkan bisnisnya dengan berjalan kaki. 

Jika ada yang membeli maka beliau mendapatkan selisih harga antara modal dan penjualan. Itu keuntungannya. Jika tidak ada yang membeli maka nihil pendapatan. 

Di satu sisi yang boleh dibilang sebagai salah satu keunggulan model bisnis kakek itu, dia bebas tidak diatur atasan. Tidak ditegur juragan karena bekerja mandiri. Itulah karakter bekerja mencari rejeki di kuadran 2 Self Employee (S).

Tidak Punya Pensiun

Tenaga kerja merupakan penduduk yang berada dalam usia kerja. Menurut UU No. 13 tahun 2003 Bab I pasal 1 ayat 2 disebutkan bahwa tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. 
Secara garis besar penduduk suatu negara dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Penduduk tergolong tenaga kerja jika penduduk tersebut telah memasuki usia kerja. Batas usia kerja yang berlaku di Indonesia adalah berumur 15 tahun – 64 tahun. *)

Sumber *) :  https://id.wikipedia.org/wiki/Tenaga_kerja

Sebagaimana aturan yang masih berlaku saat tulisan ini dimuat, untuk PNS usia pensiun 60 tahun bagi guru.

JAKARTA, iNews.id - Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan menaikkan usia pensiun anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari 53 tahun menjadi 58 tahun. Usia pensiun anggota TNI didatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI.Jan 23, 2020

Beruntung bagi mereka yang terdaftar sebagai PNS, TNI/Polri, di saat fisik mulai melemah, bahkan psychis dan mental pada sebagian usia tua juga mengalami drop atau "ghoromi"/kepikunan, mereka masih terima pensiun.
Setiap bulannya tidak lagi bekerja, tapi masih gajian cukup buat kehidupan secara normal. Terutama kebutuhan jasmani , makan dan pakaian. Sedang untuk urusan papan, secara standar dapat membuat rumah dari hasil tabungan selama masa aktif bekerja.

Namun bagi kakek pada ilustrasi di atas tidak memiliki pensiun. Karena pola kerjanya mandiri. Di saat usia senja marih harus bekerja dengan fisiknya untuk mencari sesuap nasi. Pakaian juga dalam keterbatasan.


Apa Yang Terjadi 20 Tahun Mendatang Tergantung Keputusan Hari Ini.

Tentu ini bukan urusan melawan qodar, seolah dapat menentukan yang akan terjadi di masa depan.


Tapi manusia perlu berusaha agar mendapat hal terbaik di masa yang akan datang.

Sesungguhnya Alloh tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11).

Secara riel mereka para PNS atau TNI yang berusia 40 tahun, mereka akan  mendapatkan pensiun di masa tuanya, karena 20 tahun yang lalu membuat keputusan untuk mendafarkan tes PNS/TNI.
Jika tidak melamar , maka nasibnya akan berbeda.


Di saat usia sudah senja masih bekerja, karena tuntutan kebutuhan pokok. 

Pasif Income Bagi Non PNS

Jumlah Pegawai PNS pada 2017 sebanyak 4,28 juga pegawai. Jumlah tersebut, berdasarkan data Badan Kepegawaian Negara yang dipublikasikan BPS.

Dengan jumlah penduduk Indonesia 267 juta jiwa, berarti hanya 1,603 %
Sedangkan 98,397 % harus berusaha dari sekarang, agar di masa tua kelak dapat hidup berkecukupan secara layak. Tetap mendapatkan aliran rejeki halal, pasif income atau punya aset yang dapat dipakai sandaran hidup, meski total tidak bekerja.

Bagaimana menikmati masa tua, dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik. Hal-hal yang beurusan dengan mencukupi kebutuhan dasar hidup seperti makan, pakaian dan kesehatan sudah tersedia secara layak. 
Sehingga pemikiran dan waktunya dapat dikonsentrasikan untuk mempersungguh ibadah dan akhirat.  


Hal itu yang mestinya menjadikan semangat dan motivasi yang kuat untuk berdoa dan berusaha secara nyata agar harapan dan cita-cita dapat terwujud.


Baca Juga Artikel Relevan :













Selengkapnya...

Khataman KTH

Kitab Ta'sisu Himmati bentuk besar sebelum dicetak penerbit. Lokasi Masjid Alfalakh, Perum Minomartani, Ngaglik, Sleman DIY

Apa yang selanjutnya dilakukan setelah khataman ?


Sering terdengar bahkan setiap menjelang Romadhon di pondok-pondok pesantren, majelis ta'lim atau Taman Pendidikan Alqur'an mengadakan acara Khataman.
Khataman pertanda sudah selesai mengaji kitab tertentu atau tahapan program yang telah ditentukan.

Dengan khatam maka selain mengerti bacaannya kitab yang dikaji idealnya juga telah mengerti arti kata demi kata dan keterangannya.

KTH (Kitab Ta'sisu Himmati) sebagai materi pembelajaran KBPJJ (Kajian Berbasic Pesantren Jarak Jauh) alhamdulillah juga telah dikhatamkan untuk angkatan ke-VII.
Lebih kurang sudah 150 kitab sudah didistribusikan ke berbagai daerah dan propinsi. Sedang untuk santri di luar negeri , dikirim versi PDF kemudian download dan print out.

Ilustrasi Umat Tidak Paham Kitab


Perumpamaan orang-orang yang dibebankan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada menanggungnya adalah sebagaimana gambarannya keledai yang memikul kitab. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Alloh. Dan Alloh tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. 
Surah Aljum'ah [62] : 5.

Khimar atau keledai , seoker hewan sejenis kuda namun sedikit lebih kecil. Tugasnya untuk memuat barang-barang milik juragannya. Para pendaki gunung juga sering menggunakan keledai sebagai porter.
Sebagai hewan tentu tidak paham isi atau arti barang yang dibebankan diatas punggungnya. Kalau paham isinya malah jadi aneh. Misal bisa membaca buku yang dimuatnya, ternyata ada tips rahasia ilmu merubah diri hewan menjadi manusia ganteng dan kaya ;)

Alloh Swt menjadikan gambaran yang buruk buat manusia yang tidak mengerti isi Kitab Qur'an yang dibebankan kepada hamba.

Maka sebagai hamba yang berharap mendapat ridho dan syafa'at kelak di hari kiyamat, masa sekarang inilah berusaha mengikuti petunjuk dalam frimanNYA.

Dari kajian KTH di grup WA angkata ke-VII yan sudah dikhatamkan pada tanggal 27/2/2020 harapannya para peserta dapat mempraktekkan Metode Ekutubu.

Metode sederhana yang diharapkan dapat memberikan gambaran cara kajian ala pesantren. Warga masyarakat umum non pesantren melalui kajian jumpa darat ataupun dengan pendampingan via online dapat ikut aktif sebagai santri Artamita.
Mengekspresikan semangat juang untuk tolabul ilmi , kemudian menghayati kandungan hikmahnya sebagai dasar keyakinan untuk diamalkan.

Praktis Metode Ekutubu (MT)


Secara singkat dan sederhana sebenarnya Metode Ekutubu (MT merupakan rangkaian langkah mendalami Qur'an dan Sunah (Hadits).
Pertama kali seorang muta'alim (pembelajar) dituntun Memiliki pegangan berupa mushaf Qur'an dan atau Hadits. Setelah memiliki kitab pegangannya dalam menerima penjelasan dari guru mengaji tidak cukup mendengarkan tapi penting untuk Menulis kan arti kata demi kata. Tujuannya agar tetap dapat diingat nantinya. Disaat menerima ilmu agar konsentrasi sehingga dapat Memahami apa yang disampaikan oleh guru ngaji. Hasil dari mengaji seraca artamita yang berupa makna tiap penggalan kata dan keterangan , tidak cukup hanya dibiarkan. Agar pengertian terus bertambah dan pemahamannya semakin kuat maka muta'alim perlu melakukan Tadabur.

KTH dikajikan di masjid Almuthmainah Perum Minomartani -Ngaglik-Sleman-DI Yogyakarta. Bekerjasama dengan ta'mir masjid dalam upaya mema'murkan masjid dengan kegiatan pengkajian Quran dan Hadits.


Kegiatan sosialisasi parktek Metode Ekutubu dengan KTH bersama Yayasan Sahabat Alqur'an Temanggung

Selain dikaji dalam masjid, tempat kumpul, KTH juga dikaji secara prifat di rumah-rumah.




Dengan konsisten pada cara mengkaji, Metode Ekutubu juga cocok untuk mengkaji AlQuran dan Kitab Hadits Kutubusitah.



Setelah mengkhatamkan kajian suatu kitab tertentu dengan Metode Ekutubu, maka hal-hal yang sepatutnya dilakukan antara lain :
  • Bersyukur kepada Alloh Swt telah diberi kesempatan mengenyam pengalaman mempraktekkan teknik kajian sebagaimana cara ngajinya para santri di pondok dan calon ulama.
  • Dengan didasari rasa syukurnya kepada Alloh Swt sudah diberi ilmu, kemudian tumbuh rasa peduli untuk menyampaikan apa yang pernah didapatkan, kepada sesama. Mulai dari keluarga sendiri, tetangga, teman kerja, kenalan dan seterusnya.
  • Terus semangat dan semakin rindu " khirson fi 'ilmu" /haus akan ilmu, untuk mengkaji kitab-kitab lainnya.
  • Setelah khatam KTH yang berisi semangat, manfaat dan latarbelakang pentingnya kajian Islam secara serius, maka selanjutnya mengkaji hadits-hadits tentang amalan wajib sehari-hari. Seperti bab dasar-dasar sholat, sholat2 sunah, puasa, doa-doa, perawatan jenazah dll.
  • Hal penting setelah mengkaji adalah Tadabur (point ke-4 Metode Ekutubu). Tentang Tadabur ini didasari firman Alloh Swt pada Surah Anisa [4]:82.
Apakah mereka tidak men-tadabur Alqur'an? dan seandainya Qur'an bukan dari sisi Alloh maka niscaya mereka menjumpai di dalamnya perselisihan yang banyak.

Tadabur adalah mengulangi menghayati kandungan pengertian yang didapatkan dari hasil mengkaji. Memerlukan suasana hati yang tenang serta pikiran yang jernih.
Jika ini dilakukan secara terus menerus setiap selesai menerima kajian, maka sejalan dengan semakin banyaknya ilmu yang di dapat, juga akan semakin banyak memahami akan hubungan  pengertian suatu ayat dengan ayat lain dalam surah yang sama atau beda surah, bahkan ada relevansinya dengan hadits.

Semakin lama semakin terang akan pemahaman Islam yang global dan utuh.
Ilustrasinya sebagaimana di malam hari dengan menggunakan lampu senter mengamati bagian-bagian rumah. Sedikit demi sedikit, semakin lama semakin mengetahui bagian bangunan rumah tersebut saling berhubungan, tidak terpisahkan. Memahami bentuk rumah secara utuh/totalitas.

Menuju Islam Kaffah


Sesuai dengan gambaran di atas maka dengan senantiasa Tadabur insyaAlloh akan mengarah kepada pemahaman agama Islam yang kaffah sebagaimana diperintahkan oleh Alloh Swt dalam Surah Albaqoroh [2]:208.
 Hai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah dan jangan kau ikuti langkah-langkah syetan sesungguhnya dia adalah musuh yang terang bagimu.

Baca Juga Artikel Terkait :

Metode Ekutubu, Seperti Apa ?

http://www.artamita.com/2018/07/metode-ekutubu_30.html

 

Kitab Ta'sisu Himmati

http://www.artamita.com/2018/02/kth-apa-ini.html




Selengkapnya...

Ikhtilaf, Bagaimana Keterangan Alqur'an ?

Islam pada masa Rosulullohi Saw satu golongan. Kini terbecahbelah

Indonesia yang penduduk mayoritas muslim tapi terpecah-pecah Islamnya.

Respon pendek di obrolan chat dari seorang member WA group KTH (Kitab Ta'sisu Himmati) 

 
 https://chat.whatsapp.com/0AIwKWlyGub5wERfVOiJa8

 

 




 

Respon tersebut didahului posting video dari member lain sebelumnya. Video berdurasi 4 menit 13 detik seputar perkembangan Islam di Inggris yang akhir-akhir ini sangat pesat.

Apakah ini artinya Islam akan berjaya di Eropa ?
Indonesia yang penduduk mayoritas muslim tapi terpecah-pecah Islamnya.

Saudara-saudaraku,
Group KTH yang didirikan lebih dua tahun lalu, tepatnya 6-5-2017, memang cukup dinamis. Dari berbagai usia, latar belakang pendidikan dan pemahaman beragama tentunya.
Melihat respon ini, cukup menarik sehingga jadi bahan coretan blog akhir bulan ini.

Fungsi Alqur'an Mensikapi Ikhtilaf.


Ikhtilaf atau perbedaan paham dalam beragama masa sekarang ini tentu bukan hal yang aneh lagi.
Lebih 1400 tahun kita ditinggalkan Rosulullohi Saw, sesuai perjalanan waktu dan sunatulloh Agama Islam menjadi berpecah belah.
Pada masa hidup Rosulullohi Saw sejak dipilih menjadi utusan Alloh pada usia 40 thn diturunkan Alquran yang pertama kali yaitu surah Al-'alaq. Alquran yang berjumlah 6.237 ayat khatam diturunkan kepada Rosulullohi Saw wafat.
Saat wafat itulah kondisi Islam masih satu golongan "ummatan wakhidah" sebagaimana telah dijelaskan pada Surah Al -mu'min [23] : 52-54

52. Sesungguhnya (agama Islam ) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.

53. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) berpecah belah dalam urusan agama mereka,  Tiap-tiap golongan bangga (merasa paling benar) dengan apa yang ada pada sisi mereka.

54. Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu.

Pecah belah Islam sudah pula disabdakan Rosulullohi Saw sebelum wafatnya, dalam hadits riwayat Abu Dawud no hadits 4597.

Dari Abu ‘Amir al-Hauzaniy ‘Abdillah bin Luhai, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, bahwasanya ia (Mu’awiyah) pernah berdiri di hadapan kami, lalu ia berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri di hadapan kami, kemudian beliau bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan sesungguhnya ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, (adapun) yang tujuh puluh dua akan masuk Neraka dan yang satu golongan akan masuk Surga, yaitu “al-Jama’ah.” 

Dari Abu ‘Amir al-Hauzaniy ‘Abdillah bin Luhai, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, bahwasanya ia (Mu’awiyah) pernah berdiri di hadapan kami, lalu ia berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri di hadapan kami, kemudian beliau bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan sesungguhnya ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, (adapun) yang tujuh puluh dua akan masuk Neraka dan yang satu golongan akan masuk Surga, yaitu “al-Jama’ah.”

Read more https://almanhaj.or.id/453-kedudukan-hadits-tujuh-puluh-tiga-golongan-umat-islam.html
Dari Abu ‘Amir al-Hauzaniy ‘Abdillah bin Luhai, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, bahwasanya ia (Mu’awiyah) pernah berdiri di hadapan kami, lalu ia berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri di hadapan kami, kemudian beliau bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan sesungguhnya ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, (adapun) yang tujuh puluh dua akan masuk Neraka dan yang satu golongan akan masuk Surga, yaitu “al-Jama’ah.”

Read more https://almanhaj.or.id/453-kedudukan-hadits-tujuh-puluh-tiga-golongan-umat-islam.html

Mencari Solusi diantara Perpecahan Islam


Menyaksikan perpecahan Islam yang seolah sulit mencari Islam yang aslinya seperti pada jaman Rosulullohi Saw, beberapa kali terdengar komentar " semua memang begitu, saling mengaku benarnya sendiri". Respon yang mingkin melukiskan rasa kepasrahan.

Alqur'an kitab yang sempurna, petunjuk bagi hamba yang beriman dan menghendaki jalan keselamatan. Di dalamnya telah disebutkan fungsi dan kedudukan mensikapi ikhtilaf ini.

Surah An-nahl [16]
64. Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan supaya kamu terangkan kepada mereka perkara yang mereka perselisihkan (urusan agama), dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. 

Dari ayat tersebut, maka tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Rosulullohi Saw dengan wahyu Alquran dan tuntunannya (dalam hadits) untuk menunjukkan hasil akhir dari sabdanya yang dicatat oleh Abu Dawud di atas.
Jika diikuti secara kaffah maka seorang hamba akan menemukan satu milah atau toifatun (golongan) yang dapat selamat dari perpecahan.

Baca Juga Artikel Relevan :

Cara Belajar Mengaji Mengikuti Cara Para Sohabat 

Awas Rugi Akhirat





 






Selengkapnya...

Menjadikan Baca Qur'an Semakin Menyenangkan & Ketagihan

Aktivitas baca Qur'an menjadi semangat dalam suasana kebersamaan.

Dengan sentuhan keindahan maka membaca Alqur’an bukan lagi menjadi beban, namun menjadi menyenangkan bahkan menjadi hobby.

Segala perbuatan atau amaliyah yang diperintahkan oleh Alloh dalam Kitab suci al-Qur’an atau sabda Rosul dalam hadits adalah ibadah. Termasuk di dalamnya adalah membaca Qur’an. Sehingga aktivitas membacanya dapat dijadikan salah satu amalan andalan.
Perintah atau amaran tentang membaca Qur’an dapat dicari ayatnya dalam Alqur’an dengan kata kunci (kata dasar) تَلو    atau   قَرَأَ.
Kalamulloh yang mengandung kata  تَلو ada 62 ayat pada 60 surah.
Untuk kata perintah (fiil amr) nya ada 6 ayat. Salah satunya pada ayat 71 surah Yunus :
وَتْلُو عَلَيْهِمْ نَبَأَ نُوحٍ ......

Dan bacakanIah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Alloh, maka kepada Alloh-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu menunggu kepadaku.



Ayat2 yang mengandung fiil (kata kerja lainnya) seperti fiil mudhori’, lebih banya lagi

Sedangkan perintah Alloh Swt tentang membaca Qur’an yg diawali dengan kata dasar “ قَرَأَ ” ada 17 ayat terdapat pada 16 surah. Karena ada dua ayat pada surah Al-Alaq [96].

Kata perintahnya ada pada 5 ayat.

Di antaranya pada surah al-muzamil [73] : 20

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْءَانِ 
Maka bacalah oleh kalian apa yang mudah dari Qur’an.

Ayat ini terkait dengan perintah membaca ayat Qur’an dalam sholat.


Perintah Untuk Mentartilkan dan melagukan Qur’an.


Surah [73] : 4.

 صل وَ رَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيْلًا  اَوْزِدْ عَلَيْهِ

Tambahlah atas waktu (sholat malam), dan tartilkanlah Qur’an dengan sungguh-sungguh  tartil.

Tartil maksudnya adalah melafadzkan huruf-huruf Qur’an dengan jelas. Termasuk di dalamnya makhrojul huruf, tempat keluarnya huruf Qur’an.


Kegiatan Belajar Membaca Qur’an Dengan Senang.



Salah satu hal yang membuat suatu pekerjaan dapat dilakukan dengan lancar, nyaman di hati, betah, manakala dalam mengerjakannya dirasakan dengan senang hati, riang.

Ada satu sisi di mana setelah selesai melakukannya ada perasaan tenang, tentram.

Sejak pertama seorang belajar membaca Qur’an dengan lebih dulu mendengarkan dengan penuh perhatian dan mengagungkan , maka akan memperoleh rohmat Alloh Swt.

Sebagaimana Alloh Swt berfirman pada surah al-A’rof [7]: 204

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْءَانُ فَاسْتَمِعُوالَهُ , وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
“ Dan ketika dibacakan Qur’an maka dengarkan baik-baik dan perhatikanlah agar kalian diberi rohmat”

وَأَنْصِتُوا Maksudnya  إتركوا الكلام لأجل الاستماع  tinggalkan berbicara untuk tujuan mendengarkan.


Perintah Melagukan Alqur’an.


Setelah umat muslim belajar dengan mendengarkan terlebih dulu kepada orang lain, maka dalam mengulangi membaca atau muroja’ah diperintah untuk memperindah bacaan qur’an itu dengan suaranya.


زَيِّنُوا الْقُرْأَنَ بِأَصْوَاتِكُمْ

“Hiasilah alqur’an dengan suara kalian” Sabda Rosulullohi Saw dari Baro’ bin ‘Azib. HR.Ibnu Majah juz 1 hal.426 no hadits 1342.



Umat muslim yang gemar membaca Qur’an rupanya mendapat tempat khusus di hadapan Alloh Swt.

“ Alloh sangat memperhatikan (utk mendengarkan) kepada seseorang yang bagus suara bacaannya terhadap Qur’an, dia menampakkan bacaannya itu daripada penyanyi yang mengeraskan suaranya” Sabda Rosululloh dari Fadholah bin ‘ubaidin. HR.Ibnu Majah juz 1 hal.425 no hadits 1340.
Dengan nada atau lagu menjadikan suatu keindahan dan keagungan dalam pembacaan ayat-ayat al-Qur’an.
Hal demikian memerlukan usaha latihan dan konsentrasi
Membaca al-Qur’an adalah ibadah yang menyenangkan karena beberapa kefadholan antara lain :

  • ·        Dari Abu Huroiroh sesungguhnya Rosulallohi Saw bersabda “ Barangsiapa mendengarkan satu ayat dari kitabillah maka baginya ditulis kebaikan yang dilipatkan. Dan barangsiapa yang membacanya mk baginya cahaya di hari kiyamat ” HR.Ahmad fii tafsir Ibni Katsir – Kitabul Adilah hal.6

  • ·         “ Barangsiapa membaca satu huruf dari kitabillah mk baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan ditulis (dilipatkan) 10 kali semisalnya. Aku tidak bersabda alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf “ Sabda nabi dari Abdulloh bin Mas’ud. HR.Tirmidzi- Kitabul Adilah hal.5-6.

  • ·         “ Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Qur’an dan (kemudian) mengajarkannya” Sabda Nabi dari Usman RA. HR.Bukhori , Kitabul Adilah hal.4.



Dengan belajar bersama-sama dalam satu komunitas muslim maka Alloh  Swt memberikan rohmat, kasih sayang.

Rupanya perasaan yang Alloh Swt berikan dalam hati inilah yang kemudian membuat 



Belajar Qur’an Tidak Dapat Otodidak


Ayat 204 di atas sudah jelas, bahwa dengan lafadz “ dibacakan” tentu saja ada orang lain yang membaca kemudian kita disuruh mendengarkan terlebih dahulu. Bukan membaca sendiri tanpa diajari.

Sebaliknya jika pembelajaran Alqur’an dari urusan membaca , muroja’ah dilakukan bersama orang lain, maka akan memperoleh beberapa kefadholan.

Baca Juga Artikel Terkait :







Selengkapnya...