Pembahasan LPM Kajian No.6 : Menetapi Prosedur Ilmu Sebelum Amalan






Klik immage di atas untuk memperjelas 

wa laa taq-fu maa laisa la ka bi hi 'ilmun inna asm'a wa al-basoro wa al-fuada kul-lu ulaaika kana 'anhu mas-ula

Dan jangan engkau kerjakan apa-apa yang tiada bagi engkau dengannya ilmu, (karena) sesungguhnya pendengaran dan penglihatan dan hati, semua mereka ada dari semua itu akan ditanyakan.

Yang dimaksud tidak boleh mengerjakan sebelum tahu ilmunya, adalah dalam konteks peribadatan


Dengan kata lain jangan mengamalkan dulu urusan ibadah sebelum mengkaji ilmunya" istilahnya " العلم قبل العمل / al'ilmu qobla al-'ul ilmu lebih dulu sebelum beramal. Jangan sampai sudah beramal padahal belum berilmu.
Ibadah adalah perintah Alloh SWT kepada hambanya yang terdiri dari jin dan manusia, sebagaimana surah Adhariat (51); 56. Tata cara peribadatan juga sudah diatur secara lengkap di dalam kitab al-Quran dan mengikuti tuntunan Rosululloh SAW di dalam kitab Hadits. Dengan mengkaji dasar2 ilmu beribadah maka amalannya dapat sesuai dengan kehendak Alloh SWT , yang kelak akan memberikan pahala/imbalan di hari kiyamat. Inilah prosedur yang tepat. Karena barang siapa beramal dengan suatu amalan yang tidak sesuai dengan tuntunan rosul maka, amalan itu kelak akan ditolak oleh Alloh SWT alias tidak diberi pahala. Dalam hadits lain disebutkan = barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada atas amalan itu perkaraku, maka amalan itu ditolak. 

Betapa ruginya seorang beribadah kepada Alloh SWT niyatnya mencari bekal untuk menghadapNYA di akhirat kelak, sudah semangat dengan keyakinan, mengeluarkan tenaga , waktu bahkan biaya tidak sedikit namun kenyataannya di akhirat amalannya tidak sah gara-gara dalam ibadahnya tidak sesuai dengan pedoman yang telah digariskan dalam Quran dan Hadits. Cara beribadah mulai dari cara mendapatkan ilmu belum mengikuti prosedur yang benar sebagaimana yang dituntunkan. InsyaAlloh dalam kesempatan lain akan dibahas arti kata dalil terkait, supaya kita semua lebih mantap dan yakin.

Alloh SWT yang maha memberi dan maha kuasa atas segala sesuatu.Syariat (aturan) agama telah Alloh Ta'ala gariskan di dalam kitabillah dan tuntunan pelaksanaanya di dalam hadits2 mulai hal yang paling mendasar hingga semua persoalan. Yang perlu digarisbawahi adalah perlunya umat Islam terus belajar mencari ilmu dengan mohon bimbingan dan petunjuk kepadaNYA, karena Alloh juga yang maha menunjukkan. Ketika seorang hamba sudah berserah diri dan sungguh-sungguh berharap dimudahkan, maka Alloh SWT dengan idzinNYa akan mempertemukan dengan hidayah, aamin.



 Lampiran : Hikmah Nahwu Sharaf Bag.05

III.اِسْمٌismun/isim atau al-isim

 

Isim adalah kalimat atau lafadz yang menunjukkan arti kata benda , termasuk di dalamnya nama tempat, kata sifat, nama orang, binatang atau lainnya dan tidak mengandung keterangan waktu. 

Dalam susunan bhs Arab suatu kata dapat digolongkan isim atau kata benda dengan mendeteksi ciri-cinya sebagaiberikut : 
  • 1.Diakhiri dengan kasroh yaitu tanda baris di bawah huruf, contoh : اللهِ , النّاسِ , الأرْضِ ( Alloh, ardhi=bumi, An-Nasa = manusia).
  • 2.Diakhiri dengan fatkhah tanwin (ً ) : بَيْتً  baitan=rumah  , dhomah tanwin ( ٌ ): رَجُلٌ rojulun =seorang laki-laki  atau kasroh tanwin ( ٍ ): contoh عَالِمٍ 'alimin = org yg mengetahui/pandai.
  • 3.diawali dengan alif lam ( ال ) apakah itu syamsiyyah contoh:  النَّجْمُ  an-najmu = bintang , maupun qomariyah contoh:  البَلَدِ al-baladi=bumi. Maksudnya ال syamsiyah (matahari) jika alim lam (baca- al) dibaca pecah bercampur dengan huruf selanjutnya. Pada contoh di atas al-najmu dibaca an-najmu, (sinar matahari pecah). Sedang pada ال qomariyah jika alif lam (al) dibaca utuh , terpisah dengan huruf yang mengikutinya, pada contoh al-balad tetap di baca jelas "al-balad" , qomariyah=bulan, sinarnya utuh..... ;).
  • 4.Diawali dengan huruf qosam ( وا ; بأ ; تأ )=kata sumpah  وَاللهِ  تاللهِ
  • 5.Diawali dengan huruf jar yang membuat huruf terakhirnya menjadi berbaris kasroh. Jika suatu kata Arab diawali huruf jar yang berjumlah 9 (sembilan) maka pasti dia itu isim=kata benda. Contoh [1] مِنْ min/mina (dari), penerapannya pada   مِنَ الْأَرْضِ  minal ardhi =dari bumi ; [2] إِلَى ila (ke) : contoh إِلَى السُّوْقِ /ilas suqi = ke pasar ; [3] عَنْ 'an (dari) contoh عَنْ عَلِيَِ /'an 'ali =dari 'Ali ; [4] عَلَى  'ala (atas), contoh : عَلَى الْأَرْضِ  'ala al-ardhi=atas bumi ; [5] فِي fi (dalam) contoh فِي الْبَيْتِ fil baiti = di dalam rumah ; [6]  رُبَّ  rub-ba (banyak/sedikit) contoh   رُبَّ رَجُلٍ كَرِيِمٍ rubba rojulin karim  = banyak/sedikit org laki-laki yang mulia ; [7] الْبَاءُ ba' (dengan) contoh بِالْقَلَمِ /bil qolam = dengan pena ; [8] الْكَافُ kaf (seperti) contoh : كَالْقَمَرِ  kal qomar  = seperti bulan ; [9] اللاَمُ lam (kepunyaan) contoh :  لِلهِ  lillahi  (kepunyaan Allloh).
  • 6. Dilihat dari artinya menunjukkan kata benda atau nama orang ,contoh  قَلَمُهُ  qolamuhu = pensilnya; عَائِشَةُ Aisyah /nama orang, dll.
  • 7. Jika dimasuki huruf  مَ مِ مُ  di depannya. Jika kalimah مُسْلِمُ  ;  مِرْوَحٌ  ; مَكْتَبٌ